Selasa, 06 Desember 2011

Mencegah Kejang Akibat Demam



Demam adalah gejala dari suatu penyakit. Balita disebut demam bila suhu tubuh lebih dari 38ºC (bila diukur lewat ketiak, tambah 0,7ºC).

Apabila balita Anda tiba-tiba demam disertai kejang, tak perlu panik. 
Ini bukan berarti ia mengalami epilepsi. Yang penting tetap tenang dan hadapi dengan cara yang tepat.

Kejang demam yang dikenal juga dengan istilah stuip atau stip, terbagi dalam 2 kelompok. Yakni kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks, yang sering dialami anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Tidak berulang. Kejang demam berbeda dengan kejang epilepsi. Kejang epilepsi terjadi berulang terus-menerus dan tanpa diawali demam. Sedengkan kejang demam sederhana cenderung tidak berulang dan tidak terus menerus, namun diawali demam. Sementara kejang demam kompleks, berisiko lebih tinggi untuk terjadi pengulangan serangan serta bisa berkembang menjadi epilepsi.

Untuk mendeteksinya, dr. Irawan Mangunatmadja, SpAK, dari Divisi Neurologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUP Cipto Mangunkusumo, Jakarta menyarankan agar mencatat dan mengukur pada suhu berapa balita mulai mendapat serangan kejang. Sebab setiap anak memiliki batas toleransi yang berbeda.

Bukan akibat infeksi saraf. Ciri khas kejang demam adalah karena kenaikan suhu tubuh di atas 38ºC dan bukan akibat adanya infeksi pada susunan pusat saraf. Contohnya, pada saat balita terkena radang tenggorokan dan demam tinggi, ia mengalami kejang.

 Selain demam, gejala-gejala balita mengalami kejang demam adalah:
  • Kehilangan kesadaran atau pingsan
  • Tubuh, kaki dan tangan menjadi kaku
  • Biasanya kepala anak terkulai ke belakang, disusul dengan munculnya gerakan kejut yang kuat dan kejang-kejang
  • Kulit berubah jadi pucat, bahkan menjadi biru
  • Bola mata terbalik ke atas, gigi terkatup
  • Kadang-kadang disertai muntah
  • Pada beberapa anak, nafas bisa berhenti beberapa saat
  • Tidak bisa mengontrol buang air kecil maupun besar
Serangan berlangsung hanya beberapa menit dan kejang-kejang akan berhenti. Kesadaran balita bertahap kembali pulih.

Ke dokter jika:

  • Demam hingga 40ºC
  • Kejang pada separuh tubuh
  • Mengalami kelumpuhan separuh badan setelah terserang kejang
  • Mengalami kelumpuhan sementara atau menetap
  • Mengalami kejang berulang lebih dari 2 kali sehari
  • Saat kejang, balita berumur kurang dari 6 bulan
  • Kejang berlangsung lebih dari 15 menit


Jika ada riwayat kesehatan keluarga yang menderita kejang demam, maka ada hal yang dilakukan untuk pencegahan.
Yakni, saat anak demam sebaiknya diusahakan menurunkan suhu badannya dengan cara:
  • Bila suhu udara panas, kenakan pakaian seminimal/setipis mungkin, atau tanggalkan pakaiannya.
  • Jangan selimuti anak dengan selimut tebal, karena justru akan meningkatkan suhu tubuh dan menghalangi penguapan.
  • Kompres dengan lap basah (suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan anak). Jangan gunakan alkohol atau air dingin (penggunaan alkohol amat berpeluang menyebabkan iritasi pada mata dan keracunan/intoksikasi).
  • Seka seluruh permukaan tubuh anak untuk menurunkan suhu di permukaan tubuh. Penurunan suhu yang drastis justru tidak disarankan.
  • Beri obat penurun panas.
  • Beri banyak minum.
Namun jika anak akhirnya terkena kejang demam, segera bawa ke dokter jika kejang berulang atau terjadi lebih dari 5 menit

Jika balita Anda tiba-tiba kejang akibat demam, inilah tips pertolongan pertama untuk menanganinya

  • Catat waktu datang dan lamanya serangan
  • Yakinkan jalan nafas anak lancar:
  • Miringkan posisi tubuh anak dengan kepala sejajar atau sedikit lebih rendah. Tujuanya, agar dia tidak menelan kembali muntahannya sendiri, karena dapat mengganggu pernafasan.
  • Longgarkan baju, sehingga bisa bernafas dengan leluasa
  • Bila tersedia, berikan obat untuk menghentikan kejang (diazepam) yang diberikan melalui dubur. Tapi biasanya kejang berhenti dengan sendirinya setelah 5 menit.
  • Jangan mengganjal mulut anak agar tetap terbuka, misalnya dengan meletakkan kain, sendok atau jari tangan diantara gigi balita.
  • Pindahkan benda-benda keras dan tajam yang ada di dekat balita.
  • Setelah anak benar-benar sadar, upayakan menurunkan suhu tubuhnya, misalnya dengan mengompres atau memberi obat penurun panas.
Bila kondisi anak tak kunjung membaik, jangan segan segera dibawa ke dokter

sumber ayahbunda.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar